Opini

Realitas Pendidikan Sekolah Formal

Saya sebagai guru di sekolah merasa tidak cocok dengan kurikulum yang ada. Bayangkan! Dalam satu kelas minimal 20 orang mendapatkan treatment yang sama. Metode yang sama.

Jika boleh diibaratkan, di dalam sebuah kebun binatang ada berbagai macam hewan. Ada monyet, burung, ikan, kura-kura, kangguru, kucing, dan lain-lain.

Dua jam belajar berenang. Siapa yang paling senang? Sudah pasti ikan. Lalu bagaimana dengan kucing? Sudah pasti kucing sangat menderita. Dua jam berikutnya belajar melompat. Monyet, kangguru, dan kucing pasti sanggup. Coba bayangkan bagaimana kura-kura dipaksa melompat?

Dalam waktu 6 bulan semuanya wajib mendapatkan nilai minimal 7. Dalam waktu 6 bulan juga wajib … semuanya! Semua harus bisa terbang, berenang dan lompat.

Jika tidak bisa, pelatih yang disalahkan. Pelatih yang dianggap tidak profesional. Sementara itu, binatang yang sudah berusaha melakukan apa yang diajarkan pelatih, justru stress dan semakin brutal. Kenapa? Karena dipaksa melakukan yang mereka tidak kuasai.

Sedangkan di rumah saja, saya misalnya, memiliki 3 anak. Lahir dari rahim yang sama, mendapatkan asupan gizi yang sama, do’a yang sama … intinya metode yang sama, tetapi pencapaian mereka berbeda.

Yang pertama sudah lancar berbicara saat 1/5 tahun, bisa berjalan saat 14 bulan. Yang kedua, 3 tahun baru lancar berbicara, tapi 11 bulan sudah bisa berjalan. Yang ketiga, sudah 1/8 tahun masih ah, uh, ih. bisa berjalan saat usia 13 bulan.

Coba bayangkan, bagaimana kalau anak-anak kita dipaksa dalam waktu satu semester sudah harus bisa berjalan? Bisa-bisa, patah tulang kaki mereka. Setahun harus sudah bisa berbicara, bagaimanapun caranya. Menurut saya, metode yang seperti itu akan membuat anak-anak kita tidak lagi mau berbicara. Stimulus wajib diberikan, tapi tidak dengan cara yang dipaksakan.

Seperti yang sudah saya ibaratkan di atas, pendidikan formal seperti itu. Dipaksa bisa! Sayangnya banyak guru yang menelan bulat-bulat kurikulum itu. Kepala sekolah juga menutup mata. Bagi mereka, yang penting nilai minimum anak didik tercapai, mereka mendapatkan pujian dari dinas. Makna cerdas menurut sekolah adalah mendapat nilai bagus di semua mata pelajaran. Padahal, cerdas itu luas … sangat luas, bukan hanya sekedar nilai akademik di sekolah.

Ujung-ujungnya, karena nilai yang jadi patokan, setiap kali ujian, anak didik itu mencontek. Saat Ujian Nasional, bahkan guru yang mengawas yang memberikan jawaban. Jadi, kecurangan itu justru diajarkan di sekolah. Nilai minimal siswa dalam jangka waktu satu semester, juga membuat guru akhirnya merekayasa nilai. Kenapa? Karena anak didik tidak boleh tinggal kelas, jika tinggal … guru yang salah. Gagal mendidik!

Padahal, seperti yang sudah dijelaskan di atas, kemampuan setiap anak didik itu berbeda. Harus diperlakukan berbeda. Bukan dengan metode yang sama. Waktu yang sama pula. Jika kancil butuh waktu satu jam untuk berlari mencapai garis finish, kura-kura mungkin butuh waktu satu hari. Begitu juga anak didik di sekolah. Dalam satu semester, minimal 20 anak didik harus mencapai hasil yang sama. impossible. Satu-satunya jalan adalah merekayasa nilai.

Memang benar, kita terbiasa dengan sistem asal bos senang. Kenyataan seperti ini ditutup rapat. Kita juga takut mengkritik, karena setiap kali mengkritik justru dianggap pembangkang dan harus disingkirkan. Pendidikan merupakan pondasi bangsa. Meskinya dari sanalah karakter generasi bangsa dibentuk setelah dari rumah. Stop hanya berpatokan pada kemampuan kognitif, sekedar menguasai materi pembelajaran.

Saya kebetulan mengajar Bahasa Inggris. Setiap masuk ajaran baru, yang saya tanya pertama adalah jenis-jenis kata. Menggelikan, tidak ada satu pun anak-anak kelas 7 yang tahu. Mereka tak bisa membedakan mana kata kerja, kata benda, dan kata sifat. Hanya 3 jenis kata itu padahal. Yang paling lucu, saat saya tanya wali songo, pernah ada yang menyebutkan Sunan Dipenogero.

Saya katakan saya masih ingat pelajaran zaman saya sekolah. Waktu saya tanya kenapa mereka sering lupa pelajaran mereka, jawaban mereka, “Belajar nggak belajar nilai tetap bagus, kok, Miz. Pinter nggak pinter, tetep lulus, kok, Miz.”

Ya, itu memang benar. Kurikulum Indonesia memberikan batasan minimal yang harus dipenuhi. Jika tidak tercapai, seperti disebutkan di atas, gurulah yang salah. Ada guru yang ingin dianggap bodoh dan disalahkan? Pasti tidak. Jalan aman, kasih nilai bagus dan luluskan mesti tak layak.

Balik ke zaman saya. Saat itu, nilai betul-betul murni. 1, ya, ditulis 1. 2, ya, 2. Gak sanggup, ya, tinggal kelas. Jadi, anak-anak takut dan termotivasi untuk belajar serius supaya tidak tinggal kelas, malu!

Satu lagi, dulu tak ada hak azasi anak yang membuat anak-anak sekarang berani melawan guru dan orang tua. Jika guru di sekolah marah, di rumah justru ditambahin. Dampaknya, anak-anak jadi menurut. Mereka ta’at. Bukankan kepada guru dan orang tua memang harus ta’at supaya ilmu dan hidup jadi berkah?

Saya tak ingin sistem itu dijalankan kembali, karena sekarang sumber ilmu luar biasa. Zaman dulu tak ada internet, buku susah, jadi sumber ilmu hanya guru. Sudah selayaknya sistem sekolah berdasarkan SKS seperti kuliah. Jadi, jangan karena gagal di beberapa bidang tinggal kelas. Namun, mengulang satu semester untuk materi yang gagal. Dengan demikian, anak didik tidak dipermalukan dan mereka akan serius untuk belajar.

Kembali, sudah semestinya juga sekolah membagi peminatan sejak SMP. Jika sudah demikian, guru yang gagal pantas disalahkan. Karena anak-anak didik dibagi berdasar kemampuan. Kura-kura satu kelompok, ikan satu kelompok, burung satu kelompok. Mereka diasah kemampuannya supaya lebih ahli. Anak-anak pecinta olah raga dibimbing menjadi atlet yang hebat. Penyuka ilmu pengetahuan alam berada dalam satu kelas. Peminat bahasa juga begitu. Maka, negara ini akan terisi oleh generasi yang ahli. Generasi yang berprestasi.

Selama ini, sistem pendidikan sekolah ini mempersiapkan anak didik menjadi staf alias pembantu. Ingatlah … pembantulah yang bisa melakukan dan menguasai banyak hal sekaligus. Tak heran jika tenaga kerja di dunia yang menjadi pembantu di negara lain, Indonesialah pemegang record-nya. Padahal, banyak dari mereka yang saat sekolah termasuk yang pintar sesuai standar sekolah.

Selanjutnya, yang aneh bin ajaib. Negara ini melihat guru profesional atau tidak dilihat berdasarkan jumlah jam mengajar. Guru yang profesional dan mendapatkan tunjangan sertifikasi sebesar sebulan gaji, WAJIB mengajar 24 JAM/minggu. Sadis! Kualitas ditentukan jumlah jam mengajar dengan segunung administrasi. Belum lagi pelatihan ke sana kemari meninggalkan kelas berhari-hari. Jangan heran jika anak didik terbengkalai karena guru sibuk dan disibukkan oleh aturan pemerintah tentang profesi guru. Guru hanya pelaksana kebijakan. Jika guru lebih mementingkan administrasi, berkutat dengan kertas daripada anak didik di kelas, jangan lagi-lagi guru disalahkan. Logikanya, sebelum menyelamatkan masa depan anak didik, harus menyelamatkan masa depan sendiri, ‘kan?

Sangat wajar jika guru bermobil, berpakaian bagus, bertas cantik, sebab guru adalah motivator. Lucu sekali guru memotivasi anak didik untuk sukses, sementara diri sendiri berwajah pucat kurang makan, tak bisa makan bergizi, naik sepeda, berbaju lusuh, dan bau karena tak sanggup membeli parfum.

Kalau boleh jujur, guru dan murid di sekolah sebenarnya sama-sama depresi. Guru diminta mengedepankan karakter anak didik, tapi saat nilai akademik tak mencapai nilai minimal justru dicap gagal. Anak didik juga tertekan karena harus mempelajari yang mereka tidak sukai dan kuasai. Dari tahun ke tahun … inilah masalah yang terjadi di dunia pendidikan sekolah kita.

Sekolah harusnya menjadi tempat untuk memanusiakan guru.
Sekolah mestinya mencerdaskan bukan justru membodohkan dan mematikan kemampuan anak didik.

“Setiap orang itu jenius. Tapi, jika Anda menilai seekor ikan dari kemampuannya memanjat pohon, maka seumur hidupnya ia percaya bahwa dirinya bodoh.”

Albert Einstein

Instruktur Nasional, guru inti dan seorang penulis.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!