Opini

Menjaga Akal dan Agama Saat Bencana

Jejakpenulis.com – Mengawali tulisan ini saya ingin menjelaskan bahwa saya memfokuskan pembahasan dalam sudut pandang agama keyakinan saya, yaitu Islam.

Sebagai manusia kita diberikan oleh Allah SWT anugerah istimewa, yaitu akal. Ia adalah pembeda antara manusia dengan hewan, dengannya kita dapat terus berinovasi dan membangun peradaban, dan dengannya kita dapat membedakan mana yang bermanfaat dan mana yang berbahaya sesuai jangkauan akal kita.

Akal juga menjadi alat untuk kita menimbang, berpikir, menentukan pilihan-pilihan, atau mengambil satu alternatif keputusan atas rangkaian setiap masalah yang datang silih berganti sepanjang hidup kita. Oleh sebab itu, eksistensi manusia sangat ditentukan oleh keberadaan dan kewarasan akalnya, maka dalam beragama pun setiap orang berkewajiban menjaga kewarasan akalnya.

Lalu bagaimana seharusnya kita menjaga kewarasan akal dalam beragama ditengah bencana wabah covid-19? Semestinya kita menggunakan akal untuk menjauhkan diri dari tindakan bodoh, atau yang selalu gurunda kita ustadz Das’at Latif sebut beleng-beleng.

Belajarlah dari sejarah, bagaimana Nabi Musa AS menggunakan akal, menghindari kejaran fir’aun , bukan karena Nabi Musa AS tak beriman kepada Allah SWT, tetapi Nabi Musa AS ingin menghindari kemudharatan, begitu pula kisah Khalifah Umar Bin Khattab yang menolak masuk ke suatu negeri yang sedang dilanda wabah penyakit, bukan karena ingin lari dari takdir Allah, tetapi untuk menuju takdir Allah yang lain, salah satunya takdir agar tetap sehat.

Pentingnya menjaga akal dalam beragama juga menjadi penangkal agar kita tidak beragama secara takhayul, sebab tidak dapat dipungkiri, ditengah kehadiran covid-19 ini, ada segelintir manusia yang beragama secara takhayul dan berkepercayaan yang tidak mendasar.

Contohnya, baru-baru ini tersebar satu video ceramah seorang pemuka agama yang menyatakan apabila ibadah haji ditiadakan akibat covid-19 berlanjut hingga musim haji, itu adalah pertanda bahwa kiamat sudah hampir terjadi. Pernyataan ini sungguh tidak memiliki dasar yang kuat, malah takhayul dan bersifat khayalan. Dari sudut sejarah pun, ibadah haji pernah berpuluh kali ditiadakan akibat wabah dan perang. Andai pernyataan bahwa dengan ditiadakannya ibadah haji maka kiamat akan terjadi, mungkin kiamat sudah terjadi berpuluh kali. Namun nyatanya sampai detik ini tidak pernah ada.

Hal penting yang perlu kita sadari bahwa ada dua hal yang perlu dibedakan. Pertama adalah wahyu, kedua adalah penafsiran terhadap wahyu. Penafsiran datang dari akal manusia, sifat bagi penafsiran adalah kemungkinan benar atau salah. Kemudian penafsiran terhadap wahyu semestinya masuk akal, jika tidak masuk akal, penafsiran itu bisa ditolak.

Kemudian juga penting untuk kita sadari bahwa agama ini sumbernya adalah wahyu, bukan berdasarkan khayalan. Ketika ada seseorang yang menafsirkan wahyu, jika penafsiran itu tidak masuk akal, wajar jika tidak kita terima, karena itu bukan lagi hakikat penafsiran, tetapi khayalan.

Maka sebab itulah, aneh jika ada pihak yang mengaitkan covid-19 dengan kedatangan Dajjal atau kaitan covid-19 dengan Dukhan (asap hitam sebelum kiamat). Pertayaannya, apa referensi yang dipakai? Ayat Al-Qur’an mana? Hadist yang mana? Duh….kenapa demikian cara mereka beragama.

Yang jelas bagi saya Islam adalah agama wahyu, bukan agama khayalan agamawan.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!