Cerpen,  Opini

Mencari Si Lapar

Alkisah di sebuah kota yang bernama Dehradun – India. Hiduplah seorang tuan tanah yang sangat kaya yang tinggal di sebuah istana yang megah dengan nama Maharajj. Tuan Maharajj memiliki seorang putra bernama Gandhi Prakash atau biasa disebut Prakash. Prakash seorang pemuda tampan namun memiliki tubuh yang besar, gemuk dan padat berisi. Hal itu dikarenakan dirinya memiliki hobi memakan makanan yang enak dan lezat.

Karena hobinya tersebut, sehingga Tuan Maharajj harus menyediakan lima orang koki di rumahnya yang bertugas memasak berbagai macam jenis makanan dari segala penjuru kota. Semua makanan tersebut harus memiliki cita rasa yang nikmat sesuai keinginan sang putra semata wayang. Jika rasa tersebut tidak ia dapatkan, maka Prakash akan marah besar dan memasukkan sang koki ke dalam penjara yang terdapat di istana megahnya. Tak heran, jika hampir setiap hari Tuan Maharajj harus sering berganti tukang masak.

Hobinya yang aneh itu membuat para tukang masak di setiap daerah di kota tersebut menjadi resah. Mereka takut akan menjadi salah satu tahanan di dalam penjara jika mereka salah memberi rasa pada hidangan yang diinginkan oleh sang putra mahkota. Bahkan ada salah satu tukang masak yang terpaksa berusaha melarikan diri dari kota untuk mencari kedamaian di kota lain. Namun naas, aksinya tersebut diketahui oleh Prakash sehingga ia menyuruh beberapa penjaga untuk mengejar koki tersebut dan memasukkannya ke dalam penjara karena dianggap telah menghina dirinya.

Ayahnya, Tuan Maharajj telah berkali-kali mengingatkannya untuk tidak bertindak dan bersikap kasar kepada para koki di istana mereka. Namun tidak ia gubris, karena keinginannya untuk selalu menikmati hidangan yang lezat dan nikmat benar-benar tidak bisa ia bendung. Semakin dirinya berusaha menahan lapar, maka sikap dan perbuatannya semakin kasar terhadap orang-orang yang ia temui di sekitarnya.

Berita tentang perilaku Prakash ternyata sampai juga ke telinga seorang pria tua yang bernama Rajendra. Pria itu tinggal di sebuah kota yan letaknya tak jauh dari kota Tuan Maharajj yakni Patiala. Malam itu, dirinya telah berencana untuk melakukan perjalanan ke Dehradun seorang diri menggunakan kereta kuda. Maka, ia segera mempersiapkan semua bekal sandang dan pangan selama berada dalam perjalanan menuju kota yang ia maksud.

Hari menjelang pagi, terlihat dari setitik cahaya yang sedang mengintip malu di ufuk Timur. Udara pagi itu sangat dingin. Sejenak ia menghentikan keretanya di pinggir sebuah sungai yang airnya mengalir dengan deras dan jernih. Kemudian ia turun dengan sebuah buntalan berisi pakaian dan makanan, lalu berhenti di tepi sungai, berjongkok dan membasuh wajahnya. Setelah itu, ia duduk pada sebuah batu besar yang terdapat di pinggirannya dan menikmati bekal yang ia bawa semalam dari rumah.

Pandangannya menatap jauh ke Barat, di mana istana megah Tuan Maharajj berada. “Masih terlalu pagi dan masih setengah perjalanan lagi yang harus ku tempuh. Jika tidak ada halangan, kemungkinan sore aku sudah sampai tujuan,” gumamnya pelan pada dirinya sendiri. Kemudian ia bangkit dari duduknya, mulai melangkahkan kakinya menuju kereta kuda miliknya, menaikinya dan kemudian kembali melanjutkan perjalanannya.

Benar saja seperti perkiraannya, ketika waktu menjelang sore. Sampailah Rajendra ke tujuannya. Seorang penjaga istana menghadang perjalanannya saat pria tersebut hendak memasuki gerbang istana yang tinggi, kokoh dan besar.

“Maaf, Tuan. Anda siapa? Dan apa maksud kedatangan Tuan kemari?” tanya salah seorang penjaga kepada Rajendra.

Pria tua yang dihadang segera menoleh kepada penjaga tersebut. Seraya tersenyum ia menjawab, “Katakan pada Tuanmu Maharajj. Aku Rajendra, sahabat lamanya ingin segera bertemu guna melepas rindu. Sampaikan saja begitu padanya.”

Lalu penjaga tersebut segera berlari memasuki halaman istana yang sangat luas dan melaporkan kedatangan Rajendra kepada tuannya. Lima belas menit kemudian, penjaga tersebut kembali dan membuka pintu gerbang istana lebar-lebar serta mempersilahkan tamu yang datang dengan sebuah kereta kuda itu untuk masuk ke pekarangannya yang luas dan indah.

Setelah kereta kuda berhenti tepat di hadapan bangunan megah milik Tuan Maharajj, Rajendra pun turun dengan menenteng sebuah buntalan pada bahu kanannya. Dia melihat sahabatnya telah berdiri menunggu kedatangannya serta menyambutnya dengan hangat dan penuh suka cita.

“Halo, Sahabatku Rajendra. Apa kabarmu? Sudah lama sekali kita tidak bertemu,” ungkapnya sangat bahagia sembari membentangkan kedua tangannya untuk menyambut dan memeluk pria tua yang baru saja turun dari kendaraan yang telah membawanya ke istana megah itu.

Pria itu balas memeluk sang tuan tanah dengan perasaan yang sama; haru, bahagia serta penuh suka cita.

“Kabarku sangat baik, Kawan. Aku harap kamu juga sama sepertiku,” jawabnya kemudian melepaskan pelukannya dan menatap pada sahabatnya.

Tapi kemudian, terlihat raut sedih terpancar dari wajah Tuan Maharajj. Pria sahabatnya merasakan perubahan itu dan bertanya. “Kenapa bersedih, Kawan? Apakah selama kita tidak bertemu, kamu mendapatkan banyak masalah?”

“Mari masuk dulu. Kamu pasti lelah setelah menempuh perjalanan jauh. Aku sudah menyuruh para pelayan untuk menyajikan hidangan istimewa kesukaanmu. Setelah itu, baru kita mengobrol lama.” Tuan Maharajj mengajak tamunya untuk masuk ke istana.

Kini mereka berjalan saling beriringan menyusuri setiap koridor yang di setiap sisinya terdapat patung yang terbuat dari emas murni. Rajendra tersenyum sambil berdecak kagum dengan segala kemewahan yang terdapat di istana tersebut.

“Sepertinya kebiasaanmu menikmati hidangan yang lezat belum hilang ya?” ujar Rajendra saat dirinya melihat ada berbagai macam jenis hidangan ketika mereka tiba di ruang makan.

Tuan Maharajj tersenyum dan menimpali, “Sebenarnya sudah ku kurangi mengingat kondisi kesehatanku yang harus semakin kujaga karena kita sudah tua.”

“Benarkah? Tapi ini buktinya. Kamu masih sanggup menyediakan hidangan sebanyak ini. Kalau hanya karena alasan menyambutku, seharusnya tidak perlu begini. Karena kamu tau sendiri kalau aku tidak terlalu suka memakan makanan yang banyak,” ungkap sahabatnya merasa tidak yakin.

“Ooh, hahaha … ini semua karena Prakash. Kamu tau dia ‘kan? Putra tunggalku yang ternyata meniru kebiasaanku sewaktu muda dulu. Tapi …,” ucapnya terpotong lalu dia menekuk wajahnya sedih.

“Tapi kenapa?” Sahabatnya balik bertanya.

“Kebiasaannya lebih buruk dari yang kuduga.”

“Maksudmu?”

“Nanti kamu akan lihat sendiri.” Kemudian Tuan Maharajj memanggil putranya untuk bergabung bersama mereka menikmati hidangan malam.

“Prakash, perkenalkan dia adalah Tuan Rajendra. Sahabatku sewaktu kami masih sama-sama sekolah. kedatangannya kemari adalah untuk melepas rindu dan mengenang masa-masa kecil kami dulu. Ayo … segerakan ucapkan salam padanya.” Tuan Maharajj memperkenalkan sahabatnya kepada putra tunggalnya.

“Salam, Paman. Senang berkenalan denganmu,” ucap Prakash memberi salam sambil mengatupkan kedua telapak tangannya di depan dada.

Rajendra melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan oleh anak sahabatnya. “Salam juga, Nak Prakash. Senang mengenalmu.”

Kemudian mereka menikmati makan malam dengan khidmat. Namun tiba-tiba, suasana tenang itu berubah menjadi kacau saat sebuah hidangan mengganggu lidah Prakash. Sontak dia melempar sebuah piring yang terbuat dari keramik di atas meja dan membuatnya hancur berkeping-keping bersama dengan makanan yang dianggapnya tidak enak.

“Apa-apaan ini, hah! Siapa yang memasak hidangan dengan rasa berantakan begini!” ucapnya kasar.

Rajendra terperanjat kaget melihat sikap putra sahabatnya tersebut saat mendapati sebuah hidangan yang tidak sesuai dengan keinginannya. Seorang koki datang tergopoh-gopoh dengan perasaan yang sangat takut. Dengan tubuh gemetar dia berdiri di hadapan Prakash dan menjawab, “Sa-saya yang me-memasak hidangan i-itu Tuan.”

“Kurang ajar. Berapa kali harus kubilang bahwa kalian harus memasak makanan yang sesuai dengan lidah dan seleraku! Sekarang, kamu harus rasakan akibatnya karena telah berani menentang keinginanku! Penjagaaa! Bawa koki sialan ini ke penjara sekarang juga!” teriaknya memanggil beberapa penjaga.

Tak perlu menunggu lama, datanglah dua orang pria dengan tubuh besar dan kekar hendak membawa sang koki yang malang ke dalam sebuah penjara. Namun tiba-tiba tertahan oleh Rajendra.

“Tunggu, Prakash. Kenapa kamu perlakukan tukang masakmu seperti ini?”

“Maaf, Paman. Ini bukan urusanmu. Lagipula hukuman ini juga setimpal atas perbuatan mereka yang telah menghinaku.”

“Maksudmu menghina apa? Lagipula hukuman penjara tidak layak mereka terima hanya karena makanan yang mereka masak tidak sesuai dengan keinginanmu. Dan setelah saya mencicipi semua hidangan yang terdapat di atas meja ini, semuanya enak kok. Tidak ada yang salah dengan rasanya.”

“Sekali lagi, maaf Paman. Ini adalah urusan saya dan sebaiknya Anda tidak usah ikut campur.”

“Tapi saya adalah tamu di istana ini, dan kamu harus bisa bersikap sopan dan menghargai saya sebagai tamu. Karena kedatangan saya kesini, selain untuk melepas rindu dengan ayahmu, ada beberapa hal yang kusampaikan padamu.”

Prakash terhenyak kaget saat mendengar penuturan dari sahabat ayahnya. “Hal apa yang ingin Paman sampaikan padaku?”

Rajendra menarik napas sebelum menyampaikan perkataannya. Sementara Tuan Maharajj tampak penasaran dengan kalimat yang akan disampaikan oleh sahabatnya tersebut.

“Beberapa hari lalu, aku mendapat informasi bahwa di sebuah desa di kaki gunung Nanda Devi terdapat seorang koki yang sangat terkenal. Bahkan seluruh makanan yang ia masak selalu enak dan selalu sesuai dengan keinginan setiap orang. Koki ini sangat handal dalam memasak sehingga dirinya tidak pernah mengalami kesalahan bumbu dalam masakannya.”

Prakash tampak tertarik dengan penjelasan yang disampaikan oleh Rajendra sehingga membuatnya lupa akan niatnya yang ingin memenjarakan sang koki istana.

“Benarkah itu, Paman? Anda sedang tidak berbohong padaku ‘kan?” tanyanya dengan rasa penasaran.

Rajendra mengangguk dengan senyum terkembang di bibirnya yang penuh dengan kumis tebal pada bibir atasnya. “Ya, aku sangat yakin kamu pasti akan ketagihan dengan semua masakannya.”

“Baiklah kalau begitu. Aku akan menyuruh beberapa penjaga untuk mengajaknya ke istana ini.”

“Ooh … tidak begitu caranya.” Rajendra menyela ucapan Prakash.

“Apa maksud Paman?”

“Dia seorang wanita muda yang tidak pernah ingin pergi meninggalkan desanya walau hanya setengah jam. Kalau kamu benar-benar ingin merasakan masakannya, kamu sendiri yang harus datang kesana seorang diri tanpa ditemani siapapun. Itupun kalau kamu mau,” ungkap Rajendra masih dengan senyuman yang terus terukir di setiap kalimat yang ia ucapkan.

Prakash termangu mendengar perkataan yang disampaikan oleh sahabat ayahnya. Setelah berpikir lama, akhirnya dia memutuskan untuk pergi sendiri mencari wanita muda yang pintar memasak tersebut.

“Siapa nama wanita muda itu, Paman?” tanyanya masih dengan rasa penasaran.

“Kaylasha, itulah namanya. Tapi, ada beberapa syarat yang harus kamu penuhi saat akan menemui dia.” Rajendra menambahkan.

“Apa itu?”

“Pertama, kamu hanya perlu membawa bekal satu sisir pisang dan air minum untuk bekalmu selama melakukan perjalanan. Karena perjalanan yang kamu tempuh membutuhkan waktu yang lama kurang lebih enam hari, jadi kamu harus berhemat dengan pisang itu, makanlah sesuai jadwal makanmu yakni pagi, siang dan sore.”

“Kedua, kamu harus mencari seseorang yang bernama ‘Lapar’ untuk bisa menemukan gadis itu. Kalau kamu sudah menemukannya, maka kamu akan mudah mencari Kaylasha.”

Prakash tampak keheranan dengan nama ‘Lapar’ yang baru saja disebutkan oleh pria tua itu. Namun seakan-akan dirinya tidak peduli karena rasa penasaran yang semakin dalam untuk bisa segera menikmati hidangan enak dan lezat. Tapi kemudian, dia teringat sesuatu.

“Tapi, Paman. Jika ternyata aku tidak berhasil menemukan si ‘Lapar’ dan merasakan hidangan paling enak dari gadis itu. Maka aku akan menghukum Anda.”

“Silahkan, kamu boleh memenjarakanku dan pelayanmu itu sepulang dirimu dari desa tersebut,” tantang Rajendra.

Keesokan paginya, ketika matahari baru saja menampakkan kilau emasnya. Tampak seorang pemuda diiringai dua orang pria tua sedang berjalan menuju halaman yang sangat luas. Prakash, pemuda yang ingin mencari ‘Lapar’ demi sebuah hidangan lezat sedang bersiap-siap berangkat menuju desa di kaki gunung Nanda Devi.

Setelah ia keluar dari gerbang istana, Tuan Maharajj mulai memberanikan diri bertanya kepada sahabatnya tentang penjelasannya semalam. “Apa maksud pembicaraanmu semalam, Kawan?”

Rajendra tersenyum, kemudian dirinya mulai menjelaskan maksud kedatangannya ke istana sahabatnya itu. Setelah mendengar penjelasan dari teman masa kecilnya, Tuan Maharajj mengangguk tersenyum tanda mengerti dan mengucapkan, “Semoga saja berhasil, Teman.” Lalu mereka berjalan memasuki istana

Sudah berhari-hari Prakash berjalan menelusuri hutan dan sungai menuju sebuah desa yang terletak tepat di kaki gunung Nanda Devi. Bekal yang ia bawa telah menipis, bahkan tanpa ia sadari, telah berkali-kali dirinya menaikkan celananya yang mulai longgar. Ya, ini telah memasuki hari kelima dirinya berjalan sehingga membuat tubuhnya yang gemuk kini terlihat kurus.

Malam menjelang tiba, terpaksa dirinya kembali menginap di hutan beratapkan langit dan beralaskan tanah. Rasa lapar mulai menderanya. Dia melihat bekal pisang yang ia bawa tersisa tiga buah. “Aku harus berhemat atau aku akan mati kelaparan di dalam hutan ini,” ucapnya seorang diri. Setelah memakan sebuah dan minum, iapun tertidur kelelahan.

Matanya mengerjap-ngerjap karena cahaya matahari berhasil masuk di antara celah-celah dedaunan pohon yang lebat. Perlahan ia membuka matanya, ternyata hari telah siang. Dia benar-benar terlelap semalam. Tiba-tiba dirinya mendengar suara air mengalir. Perlahan ia bangkit dan berjalan menuju sumber suara yang ia dengar. Terlihat sebuah sungai yang airnya mengalir dengan deras.

Buru-buru ia melepas pakaiannya dan masuk ke sungai. Terasa sangat segar sekali. Setelah lama ia berendam, iapun memakai pakaiannya kembali dan melahap sebuah pisang yang masih tersisa di dalam tasnya. “Hmm … pisangnya sisa satu. Aku harus cepat-cepat menemukan desa itu.”

Sesaat dia duduk melamun memandangi aliran sungai, namun kemudian … “Hei. Kenapa baru terpikir olehku? Kalau kuikuti arah sungai ini, pasti aku bisa segera menemukan desa yang kucari.”

Dengan penuh semangat, iapun kembali berjalan menyusuri sungai. Dan benar saja seperti yang ia duga. Tampak dari tempat ia berdiri, sebuah desa sedang menantinya di kejauhan. Cepat-cepat ia melangkahkan kakinya menuju desa tersebut. Tapi kemudian, ia teringat perkataan paman Rajendra bahwa sebelum bertemu dengan Kaylasha dirinya harus bertemu dengan seseorang yang bernama si ‘Lapar’. Ia menggelengkan kepalanya. “Nama yang aneh,” pikirnya lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Ketika kakinya telah menginjak desa, dia melihat ada begitu banyak orang disana, namun pemandangan ini sangat berbeda dengan yang pernah ia lihat di kotanya. Orang-orang ini terlihat kurus, lemas dan kurang bergairah. Bahkan anak-anak mereka juga tidak selincah anak-anak di kotanya. Cepat ia berjalan dan mencari orang yang bernama ‘Lapar’. Satu persatu dia bertanya kepada setiap orang yang ia temui. Tapi tidak seorangpun yang mengenal sosok bernama ‘Lapar’.

Hingga pandangan matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang berdiri di depan rumahnya. Gadis itu tampak sedang membagikan makanan kepada beberapa orang yang sedang berdiri di hadapannya. Prakash ikut mengantri berharap mendapatkan makanan yang sama. Saat gilirannya tiba, gadis itu justru bertanya dengan penuh keheranan, “Anda siapa? Sepertinya saya baru kali ini melihat Anda berada di desa ini?”

“Sa-saya Prakash. Saya memang baru tiba di desa ini. Saya sedang mencari seseorang tapi sebelumnya saya mohon, berikan dulu saya makanan itu karena telah enam hari saya tidak makan kecuali hanya tiga buah pisang setiap harinya.”

“Baiklah, ini makanan untukmu. Masuklah dulu ke rumah saya dan makanlah di dalam,” ajak gadis itu sambil menyerahkan sebungkus makanan padanya. Prakash makan dengan lahapnya. Dia tidak menyadari bahwa gadis itu terus memperhatikan cara makannya yang terlihat rakus.

“Kamu sangat lapar ya? Bagaimana dengan makanannya, apakah enak?” Gadis itu membuka percakapan sesaat setelah melihat Prakash menyelesaikan makannya.

Pria itu mengangguk bahagia. “Ya, enak sekali. Belum pernah saya merasakan masakan seenak ini. Apakah kamu yang memasaknya?”

Gadis itu mengangguk dan tersenyum. “Ya. Saya yang telah memasaknya. Setiap hari saya memasak makanan untuk membantu mereka yang kelaparan,” jawabnya sambil menunjuk beberapa orang yang tampak sedang menikmati makanan yang baru saja ia bagikan tadi.

“Oh ya, tadi kamu bilang kalau kedatanganmu ke sini adalah untuk mencari seseorang. Siapa orang itu?” tambahnya lagi pada Prakash.

“Aku sedang mencari seorang yang bernama ‘Lapar’ dan seorang wanita yang bernama Kaylasha.” Gadis itu membeliakkan matanya saat mendengar sebuah nama disebut.

“Darimana kamu tau nama Kaylasha? Siapa yang telah menyuruhmu datang ke desa ini?”

Pria itu memagut-magut dagunya dengan jari telunjuknya. “Pamanku yang menyuruhku datang kesini.”

“Paman? Siapa namanya?”

“Rajendra, dia sahabat dekat ayahku. Beliau bilang kalau di desa ini ada seorang gadis muda yang sangat pintar memasak dan masakannya selalu enak sehingga semua orang desa menyukainya. Tapi sebelum itu aku harus mencari seseorang yang bernama ‘Lapar’. Tidakkah kamu merasa kalau nama tersebut terdengar sangat aneh?”

Gadis itu tersenyum simpul mendengar penjelasan sang pemuda kemudian ia menjawab, “Orang yang kamu cari adalah aku. Aku Kaylasha, orang yang kamu maksud, dan …” Belum sempat gadis itu menyelesaikan pembicaraannya, Prakash langsung memotongnya.

“Hah! Jadi kamu Kaylasha, lalu si ‘Lapar’? tanyanya dengan kebingungan. Gadis itu menunjuk seluruh penduduk desa yang terdapat di sekeliling mereka kemudian yang terakhir dia menunjuk Prakash. Pria yang ditunjuk terlihat semakin bingung. Kemudian tanpa diminta, gadis yang ternyata bernama Kaylasha itupun menjelaskan.

“Merekalah si ‘Lapar’ yang kamu maksud dan termasuk kamu. Makanan yang kumasak memang akan terasa sangat enak jika dinikmati oleh orang-orang yang sedang kelaparan dan pastinya bersyukur. Semewah apapun makanan yang tersedia di hadapan kita kalau tidak ada rasa syukur disini pasti tidak akan terasa nikmat,” jelasnya sambil menunjuk pada dada sang pria.

“Perut yang telah kenyang, jika terus diisi oleh berbagai macam makanan tentu lidah ini takkan lagi merasakan nikmatnya. Semua terasa hambar dan serba salah. Jika mengikuti keinginan lidah, tentu tidak akan ada habisnya. Seandainya perut kita bisa berbicara, tentu ia akan berteriak meminta tolong agar berhenti untuk diisi terus menerus.”

Prakash hanya terdiam saat mendengar penjelasan dari gadis muda nan bijaksana itu. “Ketika hilang rasa syukur kita atas makanan yang kita punya, di tempat lain justru banyak orang berharap dikenyangkan perutnya karena ketidakberdayaan mereka untuk mendapatkan sesuap nasi,” tambahnya lagi sehingga membuat pria yang duduk di hadapannya semakin bertambah malu pada dirinya sendiri.

Malam ini, Prakash terpaksa menginap di rumah Kaylasha. Namun hanya untuk semalam karena esok paginya dia harus kembali ke kota menemui sang ayah dan paman Rajendra. Dalam hati dia berjanji akan menjadi pria yang lebih baik lagi. Tapi kemudian, dia berpikir untuk membawa Kaylasha bersamanya dan memperkenalkan kepada ayahnya sosok gadis yang bersahaja itu.

“Kay, terima kasih karena kamu telah menyadarkanku. Besok aku harus kembali ke kota untuk menyampaikan kepada ayah dan paman Rajendra bahwa aku telah bertemu denganmu dan si ‘Lapar’. Tapi …,” ucapnya menggantung.

“Tapi kenapa?” Kaylasha balik bertanya.

“Maukah kamu ikut denganku ke kota?” pintanya pada Kaylasha sehingga membuat mata gadis itu membeliak lebar. dia menggelengkan kepalanya.

“Maaf, Prakash. Aku tidak bisa ikut. Kalau aku pergi, siapa yang akan menjaga mereka disini?”

“Kamu benar, tapi caramu membantu mereka juga salah. Seharusnya kamu berikan mereka modal agar bisa bertahan hidup lebih lama dan sejahtera. Jangan biarkan mereka hanya menerima hasilnya.”

“Maksud kamu?”

“Aku punya caranya, tapi dengan syarat kamu harus mau ikut aku ke kota. Nanti setiba disana, kita akan bicarakan caranya. Apakah kamu mau?”

“Benarkah? Kamu bersungguh-sungguh kan?” Kaylasha bertanya untuk meyakinkan dirinya.

Pria itu mengangguk memastikan jawabannya dengan senyum bahagia mengembang di bibirnya.

Keesokan pagi, setelah mentari memancarkan cahayanya yang keemasan. Prakash dan Kaylasha bersiap-siap pergi meninggalkan desa untuk kembali ke kota. Sebelumnya pria itu membeli seekor kuda dari seorang peternak kuda yang terdapat di desa itu. Kemudian mereka menelusuri hutan dengan menggunakan hewan berkaki empat itu sebagai kendaraan.

Karena perjalanan ditempuh tanpa berjalan kaki dan berjalan memutar sesuai petunjuk yang diberikan oleh Kaylasha, akhirnya mereka tiba di kota tidak lebih dari tiga hari. Selama di perjalanan, tanpa disadari oleh Prakash bahwa dirinya mulai menyukai gadis yang pergi bersamanya. Dan ternyata, Kaylasha juga merasakan hal yang sama.

Setiba di gerbang istana, pintu dibuka oleh dua orang penjaga. Kuda yang mereka tunggangi memasuki halaman istana disertai dengan ringkikan kuat dari hewan tersebut. Kedatangan mereka sungguh mengejutkan Tuan Maharajj dan sahabatnya Rajendra yang masih tinggal di istana sambil menunggu kedatangan Prakash. Dan yang lebih membuatnya kaget adalah, bahwa pemuda itu tidak datang seorang diri melainkan membawa serta sang gadis bersamanya.

Saat kuda telah berdiri dan berhenti di hadapan kedua pria tua itu, Prakash dan Kaylasha bergegas turun dan segera memberi salam. Lalu …

“Ayah!” Kaylasha berteriak dan menghambur ke pelukan Rajendra yang ternyata adalah ayahnya. Prakash terlihat semakin bingung, berkali-kali dia menatap ayahnya, paman Rajendra dan Kaylasha. Di tengah kebingungannya, lalu Tuan Maharajj berkata.

“Kaylasha adalah putri tunggal Paman Rajendra. Dia sengaja tinggal di desa di kaki gunung Nanda Devi untuk menolong masyarakat disana yang sedang ditimpa kelaparan. Paman Rajendra juga seorang tuan tanah seperti ayah, namun beliau punya cara sendiri untuk memakmurkan masyarakat.”

“Lalu, apa yang sudah kamu temukan disana?” Rajendra ikut bertanya sambil memeluk bahu putri cantiknya. Prakash hanya terdiam sambil matanya terus menatap Kaylasha.

“Maaf, Prakash. Aku juga tidak mengetahui rencana ayahku. Jadi jangan salahkan aku.” Kaylasha berusaha membela diri.

“Aku menemukan nilai dari sebuah hidup. Semua itu karena putri Paman yang cantik dan pintar ini,” ungkap Prakash. Wajah Kaylasha bersemu merah saat mendengar pujian yang dilontarkan oleh pemuda putra Tuan Maharajj.

“Lalu apa rencanamu selanjutnya?” Tuan Maharajj bertanya kepada putra semata wayangnya.

“Aku berencana akan memberikan modal untuk usaha. Mungkin kita bisa berikan mereka lahan untuk bercocok tanam, atau hewan untuk diternakkan atau modal usaha dagang,” jawab Prakash dengan keyakinan yang besar.

Rajendra dan Maharajj tersenyum bahagia saat mendengar pernyataan Prakash. “Lalu kapan kalian akan memulainya?” Rajendra bertanya.

Prakash menatap lekat wajah cantik Kaylasha. “Setelah aku menikahi putri Paman Rajendra.”

“Haah! Apa?” Kaylasha terperanjat kaget saat mendengar perkataan yang diucapkan oleh pemuda yang kini tubuhnya berubah menjadi langsing karena tidak makan selama enam hari selain tiga buah pisang sehari.

Rajendra melempar pandang ke arah Maharajj, sambil tersenyum dia berkata, “Ternyata perjodohan kita berhasil, Maharajj.”

Prakash dan Kaylasha saling melempar pandang kemudian menatap pada ayah mereka masing-masing lalu berteriak bersamaan, “Ayaaaah!”

Yunita Sari, lahir di Tebing Tinggi, Sumatra Utara pada tanggal 15 Juni 1983. Anak pertama dari dua bersaudara. Menjabat sebagai kepala sekolah di SD Islam Terpadu Swasta Annisa dan merupakan guru Bahasa Inggris di kota yang sama.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!