Cerpen

Kau Curi Tuhanku

Matahari mengintip dari balik pucuk pinus. Udara pagi masih segar tanpa aroma asap knalpot. Orang-orang desa mulai meniru orang kota, punya motor! sekalipun hanya untuk pergi ke sawah atau ke kebun bawang. Para petani sibuk mencangkul,
pekerja pun sibuk menyemprot hama pada tanaman bawang.

Aku melangkah, menyusuri jalan setapak yang menghubungkan kenangan lamaku dengan bunga kalbu.
Di batu besar di pinggir kali, duduk bersama Imelda, istri terkasihku. Dia sangat suka burung-burung pipit yang dihalau petani, ramai beterbangan karena terkejut suara kaleng-kaleng yang diikat pada tali dan dihentakan, ketika mereka bertengger nyaman. Tawanya akan tergelak-gelak saat bocah angon turun ke kali, memandikan kerbau, dan mereka mencipratkan air pada muka teman yang lain. Pemandangan itu tidak ditemuinya di kota.

Makan Nasi brengkos yang dibungkus daun pisang, bersama perempuan-perempuan yang baru selesai tandur. Menghabiskannya sebungkus berdua, denganku. Nasi jagung, urap semanggen, potongan ikan asin dan seiris besar telur dadar, yang diberi irisan cabe rawit dan daun bawang. Bibirnya akan kemerahan menahan pedas, keningnya basah berkeringat. Jika tidak malu pada pada para perempuan yang juga menghabiskan jatah makan siangnya, akan kusuapi Imeldaku.


Bekerja dalam satu atap perusahaan, mengharuskan setiap hari aku bertemu dengan Imelda, kecuali di hari libur. Sama-sama duduk dalam divisi marketing, kami sering mendapat tugas keluar. Tak ada yang istimewa dalam kesehariannya. Tampil pada umumnya, tak ada yang mencolok. Sesuai porsi yang dibutuhkan oleh jabatannya, dia adalah wanita disiplin, cekatan dan cerdas. Ketika makan siang duduk satu meja, baru kuketahui Imelda penganut Kristiani.

Aku tidak peduli, toh manusia memang dikodratkan ada dalam perbedaan, berbeda dalam ras, suku, agama dan hal lainnya.

Sehari-hari di kantor berada dalam ruangan yang sama, sering tanpa sengaja mataku beradu pandang. Baru kusadari matanya begitu teduh. Imelda tergolong pendiam, hanya sesekali bicara, itu pun untuk menjawab hal yang penting-penting saja.

Lama-kelamaan, ada kekaguman yang tersimpan untuknya. Wajahnya hitam manis, sederhana dengan suara yang keibuan.
Kekaguman itu berubah dengan ritme jantung yang berdetak kencang, saat menelusuri raut mukanya. Debaran hati yang berubah menjadi rindu saat libur, sehari tak bertemu. Entah dari mana datangnya perasaan ini? Anugerahkah? Atau aku yang terlalu berani menyimpulkan, bahwa aku jatuh cinta pada Imelda.

“Mel, makan bareng, yuk!” ajakku di jam istirahat.

Imelda menggeleng.”Aku, puasa, Zul,” jawabnya.

“Puasa?”

“Ini hari lahirku, aku terbiasa berpuasa.” Aku bingung dengan jawaban Imelda. Kemudian tanpa semangat menyeret langkah menuju kantin.


Keesokan hari, Imelda tidak masuk. Aku seperti kehilangan. Duduk gelisah dengan rasa yang tidak nyaman. kenapa gerangan.

Imelda sakit?

Sepulang dari kantor, aku menuju rumah Imelda, alamat kudapatkan dari Diana.
Sampai di tempat yang kutuju. Hati ini bimbang, pagar tinggi dan pintu gerbang kekar dengan gonggongan anjing bersahutan. Seperti tahu ada orang asing yang datang.

Seorang Satpam, bertanya padaku lewat jeruji pintu. Setelah kusebutkan nama Imelda, rupanya dia menghubungi pemilik nama dan mempersilahkan masuk.

Imelda tampak pucat.

Aku seperti tenggelam. duduk di kursi mewah yang ketebalan busanya membuatku melayang. Di tembok ruang tamu, terpasang kayu salib. Kemudian sisa perayaan natal, pohon cemaranya masih dipenuhi hiasan.

Pembicaraanku kikuk, bahasa yang kaku, menanyakan sakit apa? Udah ke dokter belum? Basi!

Aku pulang tanpa meninggalkan kesan. Tak kutemui orang tua Imelda atau keluarganya yang lain. Hanya dalam catatan, Imelda anak orang kaya raya sedangkan aku, hanya anak desa dengan rumah sederhana.
Tanpa perabot mewah, hanya seperangkat kursi ukir jepara dan buffetnya. Serasa berada di bumi, terlalu jauh untuk menuju langit di mana gadis pujaanku berada.

Tiga hari kemudian, Imelda masuk bekerja.
Aku mengajaknya break, dengan santapan sup buntut. Dia, mengangguk! Berbunga-bunga rasa yang tak dapat kulukiskan.

“Mel, nanti malam aku pengen ngajak kamu nonton,” kataku di antara suapan sup.

“Maaf, aku nggak bisa, Zul.” Hanya beberapa suap yang dimakannya, dia berhenti dan menutupnya dengan orange jus.

Kecewa.


Malam bertabur bintang, ingin kupetik satu, untuk bertandang. Sebagai tanda rasa sayang, kepadanya Imelda seorang.

Perasaanku dalam pertarungan, melanjutkan rasa cinta yang datang tiba-tiba, atau memilih menghentikannya.
Untuk bersatu tak mungkin kutinggalkan Rabb-ku, memaksa Imelda meninggalkan Tuhan-nya, sesuatu yang mustahil. Khayalanku memang terlalu jauh, sebab menyatakan perasaan saja belum kulakukan.

Memberanikan diri, segera kuketik dalam aplikasi whatsapp. Perasaanku padanya, untaian cinta yang semuanya hanya dibaca saja.


Esok harinya, aku malu bertemu pandang. Pada wajah Imelda datar saja, seakan tak ada tumpahan perasaanku padanya.

Tak berani mengajaknya makan siang, aku ngeloyor pergi. Memilih duduk di bangku panjang di depan kantin tanpa memesan makanan.

“Kamu, tidak salat duhur, Zul?” Aku terkejut, Imelda yang bertanya padaku.

“M … mm belum,” jawabku gelagapan.

“Bagaimana mungkin kamu bisa menjagaku, jika menjaga salat saja, nggak bisa.”

Imelda melangkah, menyandarkan punggung, di kursi yang ditata pemilik kantin, seperangkat dengan mejanya di depan kantin juga.

Aku membuntuti Imelda dan duduk berhadapan dengannya.

“Kamu, harus berhadapan dengan Papaku, jika ingin mengambilku darinya, dan itu sangat sangat sulit, Zul,” ujarnya lirih.

Aku bersiap membuka suara, ketika Imelda mengingatkan salat yang belum kutunaikan.
Aku pun tersipu dan bergegas menuju Rabb-ku


Hubungan sembunyi-sembunyi itu akhirnya terkuak. Papanya marah besar, saat tanpa sengaja Mamanya menemukan buku tuntunan salat dalam tas Imelda. Aku pun kaget mendengar ceritanya.

“Aku telah mencuri Tuhan-mu, jauh sebelum kamu nyatakan cinta padaku,”

“Aku, ingin menikahimu,”

“Kita, berbeda, Zul,”

“Kita, bisa berada dalam satu keyakinan.”

Kamu, egois, Zul!”


Aku berteguh hati, untuk menemui orang tua, Imelda. Mental kusiapkan.

“Punya nyali juga, kamu datang menemuiku!” ujar Papa Imelda.

“Saya, mencintai putri bapak, saya mohon restu untuk menikahinya,”

“Terus Imelda kau suruh, ikut dengan agamamu?’

Aku mengangguk.

“Silahkan kamu pergi! dan jangan coba-coba mendekati, Imelda!” kata- katanya meluap penuh kemarahan.

“Melda, mencintai, Zul, Papa!” pekik Imelda.

Imelda bangkit dari duduk, mencoba menghalangi kepergianku. Tetapi tangan kekar Papanya menariknya, dan menghardikku lebih keras.

“Bukan, karena, Zul, Melda mengikuti agamanya, tapi keinginan itu, telah lama terpendam, Papa,”

Papa Imelda semakin marah, kemudian menampar pipi putrinya hingga memerah. Mencekal rambut panjang Imelda dan mendongakan kepalanya sambil berucap.

“Silahkan tinggalkan rumah ini, dan jangan pernah mengakui, aku, Papamu!”

Aku mencoba menghentikan kekalapan Papanya, Imelda berlari dalam pelukan Mamanya.

Aku tinggalkan rumah mewah ini dengan langkah gontai.

***

Imelda resign dari pekerjaannya, telah dua minggu lamanya sulit kutemui. Komunikasinya terputus, Wa-nya tidak aktif.
Jangan ditanya bagaimana kegelisahan hati. Aku kehilangan cahaya.

Hujan tidak terlalu deras, samar-samar terdengar ketukan pintu, kubuka. Betapa terkejutnya, Imelda ada di depanku.

Bulir-bulir bening mengiringi cerita. Papanya mengusir Imelda, dia telah dicoret dalam daftar warisan keluarga. Keluarganya menganggap dirinya telah mati.

Malam itu Imelda tidur di tempat kosku
Esok harinya segera membawanya pulang ke desa. Kedua orang tua dan keluarga besarku dengan tangan terbuka menerima Imelda.
Dia pun mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi muslimah.

Atas rembug keluarga aku pun segera menikah dengannya, mengakhiri masa lajangku sampai di usia duapuluh tujuh tahun dan memilih tidak kembali ke kota. Hidup bahagia di desa.

Tak berselang lama, tumbuh buah cinta kasih di rahimnya, Imelda bahkan semakin taat sebagai muslimah. Dia tak ingin mengganti namanya, sebagai tanda cinta pada orang tuanya. Terkadang dia merindukan Mama, adik-adik dan Papa. dengan tangis berderai-derai.

Air mata tak terbendung saat Imelda melahirkan, memberi putri kecil yang cantik padaku. Akan tetapi dia menukar nyawanya dengan kebahagiaan yang kuterima, hidupnya tidak terselamatkan, Imelda meninggalkanku di usia dua puluh lima tahun.

Aku mengabarkan berita duka ini pada keluarganya. Imelda telah mempersembahkan Amara, menjadikan mereka Opa dan Oma. Entahlah sampai saat ini, mereka belum datang menjenguk Amara dan menziarahi kubur Imeldaku.

Sri Widyaningsih Pangkey, lahir dan tinggal di Tegal, Ibu rumah tangga satu ini sudah mencintai dunia literasi sejak remaja. Sedari duduk di bangku SMP, ia aktif dalam berbagai kegiatan seni dan sastra, baik baca puisi, seni drama maupun menulis. Kini, ia masih aktif menggali ilmu tentang dunia literasi dengan mengikuti berbagai forum kegiatan menulis secara online. Kritik dan saran sangat diharapkan guna peningkatan kualitas dan penulisan selanjutnya. Silakan kirim kritik dan saran ke nomor sriwidyaningsihpangkey@gmail.com

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!