Opini

Ironi di Tengah Pandemi

Jejak Rahman – Saya tak ingin ingin menyoroti pro dan kontra tentang diperlukannya atau tidak Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) dalam mengatasi pandemi covid-19, saya hanya ingin menuliskan sudut pandang lain dari apa yang tengah terjadi di masyarakat kita.

“Selalu ada kesempatan dibalik kesempitan”, agaknya pepatah lama itu mengingatkan kita kembali tentang apa yang terjadi saat ini, lihat saja fenomena yang berlaku ditengah wabah covid-19, kelangkaan masker, mahalnya hand sanitizer, susahnya mencari alat pelindung diri (APD) medis, boleh jadi kesemua itu menggambarkan betapa masih ada manusia yang menjadi “pemangsa” bagi manusia lainnya dengan menjadi penimbun barang tersebut.

Begitupun kita yang tanpa sadar terkadang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Bukan rahasia kalau sebenarnya kita berada dalam kesempitan akibat wabah covid-19, sayangnya kesempitan itu tak menyurutkan rasa jumawa dalam diri kita, sebagai contoh kita masih bangga memposting foto makanan mewah yang menggoda selera, “hasil stay at home” captionnya, memang itu hak kita dalam kebebasan berekspresi, tapi cobalah untuk berempati, tak semua kita adalah orang mampu yang bisa begitu, masih banyak saudara kita yang kelaparan diluar sana, bertungkus lumus bertaruh nyawa demi mencari nafkah untuk keluarga mereka dirumah.

Kisah ironi berikutnya adalah stigmatisasi covid-19 yang terjadi dimasyarakat, adalah suatu keharusan untuk meningkatkan kewaspadaan ditengah pandemi seperti ini, tetapi panik dan kewaspadaan kini sangat sulit dibedakan. Apa yang terjadi dimasyarakat kita, mereka yang orang dalam pemantauan (ODP) seolah diberi “sanksi sosial” di jauhi, di gosipi, terdiskriminasi, dan di cap sebagai pembawa virus. Lebih tragis lagi cerita tenaga medis kita yang diusir dari ke kost tempat tinggalnya dengan alasan bisa menularkan penyakit. Mereka yang ODP saja di stigmatisasi seperti itu, bagaimana dengan mereka yang dinyatakan positif covid-19? Tanyalah pada nurani masing-masing.

Yang tak kalah menyayat hati adalah penolakan pemakaman pasien positif covid-19 oleh sejumlah masyarakat. Coba anda bayangkan perasaan keluarga pasien tersebut? Seolah kematian akibat covid-19 adalah “aib”, padahal tak seorangpun dapat mengelak dari kematian dan itu menjadi rahasia Tuhan. Perlu kalian ketahui, jangan beranggapan dengan menolak pemakaman tersebut kalian akan mendapat pahala yang besar. Ingatlah, bahwa mereka adalah saudaramu juga, walaupun bukan dari pertalian kekeluargaan, mereka adalah saudaramu dalam kemanusiaan.

Keprihatinan itu berlanjut dengan banyaknya penyebaran berita hoax tentang pandemi covid-19, anehnya itu diterima tanpa logika, misalnya makan telur tengah malam, konon katanya bisa menjadi penangkal corona, lucu kan? Ada lagi pemuka agama yang mengaitkan kosongnya ka’bah sampai musim haji akibat pandemi ini merupakan tanda-tanda akhir zaman, dan kiamat sebentar lagi terjadi. Tuan, agama ini datang selaras dengan fitrah, jangan sampai karena tafsiran yang salah agama jadi terfitnah.

Apalagi yang fenomena yang terjadi? Ialah kelompok yang saling tuding “pencitraan”, misalkan jika kelompok A memberikan bantuan kepada masyarakat, apakah itu pembagian sembako, penyemprotan disinfektan, dll. Maka kelompok B mengatakan itu adalah pencitraaan, begitupun sebaliknya. Tolong hentikan pertikaian kalian, bahwa rasa kemanusiaan harusnya lebih tinggi daripada pada kepentingan pribadi, kelompok, dan golongan.

Maafkan jika tulisan singkat ini kurang berkenan dan masih banyak kekurangan, setidaknya ini menjadi bahan renungan untuk saya pribadi dan kita semua, sebab kesadaran boleh datang kalau bukan dari keris raja, bisa jadi dari pena rakyat biasa.

Baca Juga, Realitas Pendidikan Sekolah Formal, Atau Tulisan Menarik Lainya Dari Rahman Manessa

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

error: Content is protected !!